Sekretaris Persipura Jayapura Rocky Bebena (Image: Indah/infopersipura.com)
Sekretaris Persipura Jayapura Rocky Bebena (Image: Indah/infopersipura.com)

PT LIB dan PT GTS berutang ke Persipura Hak Siar Hingga Uang 2,8 Miliar

Diposting pada

Manajemen Persipura mendesak operator liga yaitu PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PT. Gemilang Trisula Semesta (GTS), segera melunasi tunggakan subsidi yang harus diterima Persipura Jayapura.

Sekertaris Persipura, Rocky Bebena menyampaikan bahwa tunggakan subsidi ini kewajiban yang belum dilunasi ke Persipura, atas keikutsertaan dalam TSC 2016 dan Liga 1 2017.

Rocky mengungkapkan, PT GTS masih tunggak subsidinya berupa utang rating TV atau hak siar yang harus diterima Persipura, usai mengikuti kompetisi TSC 2016 lalu. Sedangkan untuk PT LIB masih mempunyai utang sebesar Rp2,8 miliar berupa dana subsidi ke klub.

Bebena menjelaskan, total subsidi yang diberikan PT.LIB kepada Persipura untuk satu musim kompetisi sebesar Rp7,5 miliar namun pihaknya baru menerima Rp4,7 miliar.

“Bukan hanya Persipura tetapi saya rasa semua tim peserta Liga 1 lalu sangat berharap agar PT LIB dapat dengan segera melunasi utang tersebut, apalagi khusus untuk Persipura, 90 persen pemainnya akan merayakan Hari Raya Natal sehingga membutuhkan dana tambahan,” ujar Rocky, di kutip dari Tabloid Jubi.

Dikatakan, pihaknya menghargai penjelasan PT LIB kepada Exco PSSI terkait tertundanya pembayaran tersebut, namun Bebena mengatakan sampai kapan pihaknya harus menunggu kepastian pembayarannya.

“Kami yakin PT LIB akan menuntaskan persoalan ini, hanya saja kita berharap tidak dalam waktu yang lama, karena kita dan pemain saat ini punya kebutuhan yang mendesak,” katanya.

Ketua Persipura Mania, Wilson pun sependapat dengan Sekretaris Persipura Jayapura bahwa selaku operator seharusnya sudah menyiapkan anggaran sebelum kompetisi berakhir, sehingga tidak ada masalah lagi di kemudian hari. Apalagi menurutnya tahun depan kompetisi akan kembali digelar.

“Saya lihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, pihak operator selalu meninggalkan utang kepada klub peserta kompetisi. Seharusnya yang lalu-lalu menjadi pelajaran bagi pihak operator sehingga tidak terulang lagi. Kalau sudah begini klub yang dirugikan,” katanya.

Selain itu, apabila klub mendapatkan sanksi dalam sebuah pertandingan, pihak operator selalu memberikan batas waktu terkait dengan pembayaran sanksi tersebut, baik terhadap pemain yang melakukan pelanggaran ataupun klub.

“Nah, bagaimana dengan operator yang belum bisa melunasi utangnya kepada klub-klub? Ini harus tegas dan transparan sehingga ke depan kompetisi bisa berjalan dengan baik, tanpa ada batu sandungan seperti utang yang terjadi setiap tahun,” ujarnya. (*)

0/5 0 ratings
Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *